Kadis Kebudayaan Sumbar Alarm Krisis Moral Generasi Muda, Pemangku Adat Diminta Perkuat Benteng Nagari
Padang PN - Syaiful Bahri mengingatkan seriusnya tantangan sosial yang tengah dihadapi generasi muda Minangkabau dan meminta seluruh pemangku adat kembali memperkuat fungsi pengawasan di tingkat kaum serta nagari.
Peringatan itu disampaikannya saat membuka Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Pemangku Adat se-Solok Raya di Padang, Kamis (9/4/2026), yang diikuti 90 peserta dari Kabupaten Solok, Kota Solok, dan Solok Selatan.
Dalam sambutannya, Syaiful Bahri menyoroti perkembangan sosial yang menurutnya semakin membutuhkan perhatian serius seluruh unsur adat di Sumatera Barat. Ia menegaskan, tantangan moral yang berkembang di tengah masyarakat tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama para pemangku adat.
“Sumatera Barat hari ini sedang menghadapi berbagai pengaruh sosial yang dapat mengganggu tatanan adat dan nilai keagamaan. Karena itu, peran Niniak Mamak dan Bundo Kanduang harus benar-benar hadir untuk membentengi nagari,” tegasnya.
Menurutnya, fungsi pemangku adat tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi harus aktif mengawasi perkembangan perilaku anak kemenakan di lingkungan masing-masing.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab moral Niniak Mamak dan Bundo Kanduang adalah memastikan generasi muda tetap tumbuh dalam koridor nilai adat dan agama yang selama ini menjadi fondasi utama masyarakat Minangkabau.
“Perhatikan secara detail anak dan kemenakan masing-masing. Jangan sampai kelalaian membuat mereka mudah terpengaruh oleh lingkungan yang bertentangan dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” ujarnya.
Syaiful Bahri juga menitipkan pesan agar para tokoh adat memegang teguh prinsip merawat tradisi sekaligus menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Menurutnya, kekuatan adat hanya akan terjaga apabila para pemimpin adat mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
“Rawatlah tradisi dengan menghidupkan kembali fungsi kontrol sosial. Jika Niniak Mamak dan Bundo Kanduang kuat, maka nagari akan aman dari berbagai penyakit masyarakat,” katanya.
Kegiatan bertema “Warih Bajawek Pusako Batolong, Titian Jan Sampai Lapuak” ini terlaksana melalui pokok-pokok pikiran Nurfirman Wansyah, anggota DPRD Sumbar Komisi V dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.
Nurfirman menilai penyamaan persepsi antar pemangku adat sangat penting dilakukan karena regenerasi kepemimpinan adat terus berlangsung di berbagai nagari.
Menurutnya, kesamaan langkah akan membuat penguatan nilai adat lebih efektif dijalankan secara serentak, terutama dalam menghadapi perubahan sosial yang cepat di Solok Raya.
“Jika adat kehilangan daya jaga, generasi muda akan mudah hanyut dalam arus perubahan tanpa arah. Karena itu penguatan peran pemangku adat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar falsafah Minangkabau tetap hidup di tengah tantangan zaman,” tutupnya.
#ardi



No comments