“Di Antara Asap Lamang dan Manis Tapai: Retaknya Persahabatan Popon dan Pede”
Dulu, mereka seperti dua sisi mata uang—berbeda, tapi saling melengkapi. Jika Popon pandai menarik pembeli dengan bualan khasnya, Pede mengimbangi dengan keramahan dan kecepatan melayani. Namun semua berubah sejak muncul kecurigaan kecil yang perlahan membesar: soal pembagian dari seseorang yang mereka sebut sebagai pamen askar.
Tak ada yang benar-benar tahu pasti bagaimana awalnya. Hanya bisik-bisik yang berkembang, lalu menjadi dugaan, dan akhirnya berubah jadi prasangka. Hari demi hari, senyum di antara mereka menghilang, digantikan tatapan dingin setiap kali berpapasan di lapak masing-masing. Bulan berganti, namun perselisihan tak juga reda.
Suatu malam, di bawah lampu jalan yang temaram, pesan-pesan mulai beterbangan. Kata-kata yang dulu ringan kini berubah tajam.
“Sudahlah, Pede,” tulis Popon dengan nada menantang. “Kalau masih punya nyali, selesaikan ini seperti laki-laki, bukan bersembunyi di balik layar.”
Tak butuh waktu lama, balasan datang.
“Kapan dan di mana kita ketemu?” jawab Pede singkat, tanpa basa-basi. “Ini bukan soal kelas. Ini soal kebenaran yang harus dicek.”
Namun bagi Popon, itu bukan sekadar soal klarifikasi. Baginya, harga diri sudah ikut terseret. Ia kembali menekan, kata-katanya semakin meninggi, seolah ingin menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di antara mereka.
Pede, yang biasanya santai, mulai terusik. Ia merasa diperlakukan tidak adil—namanya disebut tanpa konfirmasi, seolah ia bagian dari cerita yang tak pernah ia setujui.
“Jangan jadikan ini urusan pribadi,” tulisnya lagi. “Kalau ada masalah, jawab konfirmasi. Bukan malah menantang.”
Namun percakapan itu tak menemukan ujung. Alih-alih mereda, bara justru semakin menyala. Popon terus menyerang dengan kata-kata penuh sindiran, sementara Pede mulai membalas dengan tudingan yang lebih tajam.
“Cemen kau, Popon,” tulisnya pada satu titik. “Ngadu ke pamen askar, itu bukan berani.”
Sejak saat itu, bukan hanya pesan yang berseliweran. Suasana di kampung ikut berubah. Pembeli mulai berbisik, sebagian memilih menjauh, sebagian lagi diam-diam menikmati drama yang tersaji di antara asap lamang dan aroma tapai.
Di warung kopi, isu baru mulai beredar—katanya, jika pertikaian ini tak kunjung reda, keduanya akan dipertemukan di sebuah galanggang. Bukan sekadar tempat biasa, melainkan arena yang akan “diwasiti” langsung oleh sosok yang selama ini hanya disebut-sebut: pamen askar.
Isu itu menyebar cepat, menambah panas suasana. Sebagian warga menunggu dengan rasa penasaran, sebagian lagi justru khawatir. Apakah ini akan menjadi penyelesaian, atau justru memperkeruh keadaan?
Popon semakin tegak dengan egonya, seolah siap menghadapi apa pun. Sementara Pede tetap dengan pendiriannya—ia tak mencari pertarungan, tapi tak ingin mundur dari kebenaran yang ia yakini.
Di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan hilang—persahabatan yang dulu tumbuh sederhana, kini terkubur oleh ego, prasangka, dan kata-kata yang terlanjur melukai.
Kini, satu pertanyaan menggantung di udara kampung itu, bergaung di antara asap lamang dan manisnya tapai:
Akankah pertarungan ini benar-benar terjadi di galanggang yang diwasiti oleh pamen askar, atau akankah keduanya menyadari bahwa tak semua persoalan harus diselesaikan dengan saling menjatuhkan?
Tak ada yang tahu jawabannya. Namun kampung kecil itu terus menunggu.



No comments